Hari itu aku menjadi saksi
pembelian sebuah villa dari
broker properti pada pamanku.
Sebenarnya pembelian ini agak
unik menurutku. Hal ini karena
pamanku membeli villa ini tanpa
melihat langsung dahulu villa
yang akan dibelinya itu. Pamanku
membeli hanya berdasar brosur
dan keterangan broker yang tak
lain masih temannya. Di samping
untuk membantu temannya itu
pamanku juga tertarik pada
harganya yang tergolong murah.
Memang menurut brosur itu villa
yang tergolong besar ini
ditawarkan murah. Alasan
sibroker karena pemilik lama
kepepet sekali butuh uang untuk
operasi jantung. Namun walau
besar lokasinya memang masih di
desa yang jauh dari jalan besar
utama. Menurut si broker lagi
untuk mencapai lokasi villa harus
melewati jalan desa yang penuh
liku-liku. Dan juga semenjak
pemilik lama sakit dua bulan lalu
villa itu tak pernah lagi
dikunjungi. Si broker sendiri
belum pernah ke sana hanya
langsung diberi foto-foto dan
keterangan villa oleh pemilik
lama untuk dijualkan. Walau
berharga murah tak ada yang
tertarik kecuali pamanku ini.
Selesai urusan pembelian
pamanku menyuruhku agar
secepatnya untuk melihat
sekaligus membenahi villa.
Pamanku sendiri tak ada waktu
mengingat kesibukannya. Aku
mengusulkan agar besok saja ke
sananya. Malam sebelum
berangkat aku menelepon
temanku untuk diijinkan tidak
kuliah selama aku pergi. Lalu aku
menyiapkan perbekalan untuk
dibawa antara lain alat
kebersihan, lampu darurat, dan
makanan instan. Sebagai lelaki
muda aku memang senang
bertualang bahkan terkadang
hanya seorang diri saja. Jadi hal
seperti ini sudah aku anggap
biasa. Setelah semuanya aku
masukkan ke dalam mobil espas
minibus pamanku aku langsung
pergi tidur agar esok bugar.
Seperti biasa dan sudah menjadi
kebiasaan aku kalau tidur
telanjang bulat. Begitu
membayangkan tubuh wanita
telanjang aku langsung tertidur.
Jujur saja melihat wanita bugil
langsung dihadapanku aku
belum pernah apalagi
bersenggama dengan mereka.
Jadi aku masih perjaka. Esoknya
aku bangun pukul 08.00. Rumah
sudah sepi karena pamanku telah
berangkat kerja pada pukul
06.00. Istri pamanku sudah dua
bulan ini bertugas di luar negeri.
Sementara Bik Lastri pembantu di
rumah tengah ke pasar mungkin.
Biasanya jam-jam segini memang
jadwalnya dia ke pasar. Aku lalu
mandi. Selesai mandi aku sarapan
nasi goreng yang telah disiapkan.
Kulihat di atas meja kerja paman
ada amplop dan pesan untukku.
Rupanya itu berisi surat
pengantar dan uang saku dari
pamanku. Waktu telah
menunjukkan pukul 09.00 dan
kuputuskan untuk berangkat
agar tak kemalaman saat tiba di
villa. Kebetulan aku punya kunci
rumah sendiri jadi tak perlu
menunggu Bik Lastri pulang.
Mobil lalu kustater berangkatlah
aku. Sekitar dua jam perjalanan
aku berhenti mengisi bensin
dahulu. Tiba-tiba aku teringat tas
berisi pakaianku ketinggalan. Ya
sudah nasib barangkali aku jadi
tak membawa pakaian pengganti.
Tiga jam kemudian aku telah
sampai di gerbang desa tempat
lokasi villa. Jalan menuju ke sana
memang menyulitkan dan aku
harus bertanya berulang kali.
Desa ini memang agak terpencil
tapi pemdanangannya indah.
Hawa di sini terasa sejuk dan
nyaman. Di depan gerbang desa
terpasang spdanuk yang
menerangkan sebuah universitas
dari Jakarta tengah KKN. Mobil
lalu kujalankan terus hingga
sekitar satu kilometer jalan
bercabang dua. Menurut brosur
lokasi villa setelah melewati balai
desa. Jadi harus mencari jalan
menuju balai desa. Tapi di
percabangan itu tak ada petunjuk
sama sekali. Hendak bertanya tak
ada orang lewat. Sambil
menunggu orang lewat mobil
kutepikan dan aku beristirahat.
Sudah satu setengah jam aku
menunggu akhirnya dari spion
mobil kulihat tiga orang
perempuan dua diantaranya
mengenakan jas almamaternya
menuju ke arahku berjalan kaki.
Mereka tampaknya peserta KKN.
Aku lalu keluar mobil menunggu
mereka tiba. Semenit kemudian
mereka tiba. Wajah ketiganya
bagiku cantik semua apalagi
dibdaningkan cewek yang
kukenal mereka lebih menarik.
Kulit mereka kuning langsat
kecuali yang tak mengenakan jas
agak coklat. Tubuh merekapun
proporsional dengan tinggi
sekitar 160 cm berat seimbang.
"Selamat sore, Mas mau
kemana? Kok berhenti sendirian
di sini. Tampaknya dari luar kota,
ya?" Sapa si cewek tak berjas
membuyarkan lamunanku
tentang mereka. "Kayaknya baru
lihat nih. Pasti bingung memilih
jalan ini 'kan?" Si cewek berjas
almamater berambut lurus
sebahu menimpali. Sementara
cewek berjas satunya yang
mengenakan rok agak mini
longgar hanya tersenyum. "Benar
saya dari luar kota. Sebelumnya
saya perkenalkan namaku Rama
masih kuliah sih. Kalau jalan ke
balai desa yang mana ya?"
Tanyaku sok akrab. "Oh maaf
kami lupa kenalan dulu. Kalau
nama saya Mirna, sedang yang ini
Mbak Ratih. Nah yang pakai rok
namanya Mbak Tantri. Jalan ke
balai desa yang kanan. Yang kiri
menuju ke lapangan desa di sana
sedang ada hiburan hingga
malam. Penduduk desa hampir
semuanya sudah di sana. Mas
mau ke rumah siapa?" Cewek
bernama Mirna menerangkan.
Tiba-tiba gerimis turun.
Kupersilahkan ketiganya naik ke
mobil walau agak berdesakan
dengan perbekalanku. Setelah
kujelaskan maksud kedatanganku
mereka terutama Mirna agak
terkejut. Tapi saat kudesak
mengapa terkejut Mirna malah
tersenyum manis. Kebetulan
Mirna yang putri Pak Kadus
tempat Ratih dan Tantri
ditugaskan hendak pulang ke
rumahnya. Katanya jalannya
searah tapi lebih jauh dari villa
sekitar satujam berjalan kaki.
Mereka bertiga baru saja jalan-
jalan dari kota kecamatan.
Delapan menit kemudian kami
tiba di villa. Jarak dari rumah
terdekat cukup jauh jadi villa ini
tampak berdiri sendirian. Saat
mobil hendak kulajukan lagi
menuju rumah Mirna, Tantri
mengusulkan hendak membantu
bersih-bersih. Akhirnya mobil
kumasukkan ke halaman villa
yang luas tanpa pagar. Kuparkir
di bawah pohon mangga besar.
Gerimis agak mereda. Villa
dengan luas bangunan 200 m2
dan luas tanah 500 m2 yang tidak
bertingkat ini dicat hijau muda.
Sampah dedaunan berserakan
sementara debu dan sarang laba-
laba tampak dimana-mana. Lalu
pintu depan aku buka tampak
ruangan terdiri tiga kamar tidur
ini sangat kotor. Setelah
perbekalan diturunkan langsung
saja kami berempat
membersihkan villa ini. Untunglah
pukul enam sore semuanya
selesai. Lampu-lampu ruangan
ternyata masih berfungsi. Bahkan
pompa air penyedot air sumur
masih bisa berfungsi baik. Saat
hendak mengantar mereka
pulang pada pukul setengah
tujuh malam hujan turun lagi
dengan derasnya. Padahal jarak
dari teras ke mobil sekitar
sepuluh meter dan tidak ada
payung. Akhirnya diputuskan
menunggu hujan reda. Kami
kecuali Tantri lalu mengobrol
akrab, Dari obrolan aku tahu
Ratih baru sebulan menikah,
Mirna walau telah berusia 32
tahun belum menikah alasannya
sebagai bungsu ia ingin
membantu bapaknya yang
menduda dan sudah tua. Tapi
kuakui tubuhnya cukup terawat
walau hidup di desa. Sedangkan
Tantri hanya diam. Dari tadi ia
sibuk memasang korden di
jendela depan. Tiba-tiba pintu
depan yang tak kukunci terbuka
disertai hembusan angin beserta
air hujan. Tantri yang berdiri
dekat pintu roknya terangkat ke
atas tampak celana dalam
merahnya terlihat olehku
membuat nafsuku menaik. Paha
dan betisnya begitu mulus
menggoda. Air hujan yang datang
beserta angin membuat ia basah
kuyup. Dengan agak malu ia
langsung berlari ke kamar mandi.
Dari dalam kamar mandi Tantri
minta dipinjami pakaian.
Celakanya aku tak membawanya
sampai hdanukpun tertinggal.
Aku hanya berkaos oblong
celana jeans dan CD saja
beginipun masih kedinginan.
Mirna berterus terang sudah
terbiasa tak mengenakan jeroan
alias CD dan BH. Jadi bila kemeja
dan celanapanjangnya
dipinjamkan berarti harus
telanjang. Membayangkan itu
membuat nafsuku tambah naik
lagi. Ratih terlihat menuju ke
depan pintu kamar mandi. Ia lalu
melepaskan jaket almamater lalu
mencopot celana jeansnya. Lalu
diserahkanlah pada Tantri. Kini ia
hanya berkaos oblong tanpa BH
menutup badan sedangkan
bawahannya celana pendek
panty ketat. Walau tidak
telanjang baru kali ini kulihat
langsung samar-samar payudara
cukup besar dengan puting
mencap di kaos Ratih. Aku tak
tahu berapa ukurannya karena
belum berpengalaman. Terlihat
pula kakinya begitu mulus
melangkah ke arahku dan Mirna.
Bagiku melihat hal seperti ini
sudah membuat kontolku mulai
bangun. Apalagi hampir
seminggu tak kuledakkan lewat
onani. Ditambah suasana seperti
ini membuat pikiranku semakin
kacau saja. Saat Ratih duduk di
sebelahku, Mirna berdiri katanya
hendak membuatkan mi instan
dan kopi panas. Ia menghampiri
Tantri yang baru keluar dari
kamar mandi memintanya agar
membantu. Kulihat di HP waktu
telah menunjukkan pukul
setengah sembilan malam. Sekuat
hati kukerahkan agar kontolku
kembali tidur. Tak enak didekat
Ratih bila celanaku terlihat ada
yang menonjol. Entar dikira tidak
sopan atau bahkan ia malah
marah. "Masih pengantin baru
kok malah berpisah?" Tanyaku
mengawali obrolan. "Memang
kami pengantin baru tapi soal itu
tuh sudah sering aku dan
suamiku melakukannya sebelum
menikah. Sebenarnya kami
inginya fun aja namun saat
sedang enak-enakan begituan
eeh mamiku melihat. Jadi
langsung deh kami dinikahkan."
Tantri dengan manja
menceritakan pengalamannya.
Karena agak kedinginan ia
menaikkan dan menekuk kakinya
ditempelkan ke dada.
Payudaranya tampak tertekan
membuat aku salah tingkah.
Kulihat ia tak memakai CD
karena tak ada lekukan segitiga
di pantynya. Kontolku mulai
bangun lagi. Untuk menutupi
tonjolan maka kedua telapak
tangan kutaruh di atasnya.
"Ngomong-omong kamu pasti
pernah ya? Masak lelaki segagah
kamu kok perjaka. Seminggu di
sini sebenarnya aku ingin itu. Tapi
kegiatan padat dan hanya hari ini
serta esok libur. Lagian nglakuin
di sini sama siapa? Apa sama
bapaknya Mirna. Bisa ko nanti.
Hahahaha." Ratih bicaranya
semakin panas saja. Lalu dengan
sengaja tangan kirinya disusupkan
hingga mengenai tepat di atas
tonjolan kontolku. Enak rasanya.
"Punyamu besar juga ya. Berapa
cewek sudah dimangsa elangmu
ini?" Celoteh Ratih sambil
mengusap-usap tonjolan
kontolku. "Jujur saja aku belum
pernah kok. Aduh enak.." Saat
tangan kananku hendak
kumasukkan ke dalam panty
Ratih, Mirna dan Tantri datang
membawa mirebus dan kopi.
Akhirnya kutahan hasratku untuk
mengisi perut dahulu. Karena
capai kami berempat
memutuskan untuk tidur di villa
ini. Namun sebelumnya Ratih
menelepon ketua kelompoknya
mengabari tak bisa pulang.
Ternyata semua penghuni
dusunnya masih menonton
hiburan dan tak bisa pulang
karena hujan. Ratih, Mirna, dan
Tantri tidur di kamar tengah
sementara aku di ruang tengah
sambil berjaga-jaga. Baru dua jam
tertidur aku terbangun. Aku
kebelet kencing. Agak ngantuk
aku menuju kamarmandi. Saat
pintu kubuka sedikit tercium
aroma tinja menusuk hidung. Aku
terkejut melihat pemdanangan
indah campur menjijikkan di
hadapanku. Mbak Mirna tengah
jongkok di atas closet jongkok
tanpa tertutup selembar
benangpun bagian perut ke
bawah. Dengan wajah memerah
Mbak Mirna justru terdiam kaku.
Kulihat sambil menghirup aroma
semerbak tampak jembut ikal
hitam sangat lebat dibiarkan
tumbuh subur mengelilingi liang
senggamanya yang berwarna
kemerahan. Terlihat pula ia
berusaha keras mengejan agar
tinja kuning keras yang masih
menggantung keluar dari
anusnya. Karena terus mengejan
maka curr air pipisnya keluar
memancar deras mengenai
celanaku. Liang tempiknya terus
terbuka. Akhirnya tinja keras itu
keluar juga seluruhnya. Mbak
Mirna lalu berdiri menyiram
closet lalu cebok. Aku yang dari
tadi kebelet lalu berjalan kepojok
lain kamar mandi lalu kencingku
ku keluarkan. Kondisi kontolku
sudah sangat tegak dan keras.
Selesai itu aku hendak keluar
namun Mbak Mirna mencegah.
Kukira ia akan menamparku
sehingga aku terus meminta
maaf. "Sudahlah Dik Rama,
lupakan itu. Tapi kemarikan
burungnya langsung aja
masukkan ke tempik Mbak."
Mbak Mirna berusaha
menenangkan aku. Mendengar
ajakan gila itu aku justru
kebingungan habis belum pernah
sih. Kulihat Mbak Mirna
membelakangiku kemudian
membungkuk sambil pantatnya
agak ditunggingkan. Badannya
tetap mengenakan kemeja. Dua
lubangnya nyaris tak terlihat
tertutup rambut ikal lebat. Bau
tempik campur tinja semakin
menusuk hidungku. Tangan
kanannya dijulurkan ke belakang
hingga menggenggam erat
kontolku. "Alamak begini to
rasanya. Ehh.. Mbak jembutnya
lebat banget aku cabuti lho!" Aku
mulai menikmati kocokan lembut
tangan Mbak Mirna. Iseng
kucabut sehelai jembut saat ia
terus menungging. Kuluruskan
ternyata sekitar tujuh senti lebih.
Lalu kucabut lagi sehelai demi
sehelai. Aku dari dulu bila
melihat gambar wanita bugil
berjembut lebat sangat
terangsang dan gemas. Terutama
gambar-gambar wanita Jepang
yang terkenal sangat subur.
Apalagi melihat langsung seperti
ini. "Uhh Dik Rama nakal. Tempik
Mbak sakit kalau dicabuti terus
bulunya. Namanya orang gunung
ya pasti lebat donk. Sudah
masukin aja kontolmu. Pelan
dulu." Mbak Mirna mulai tidak
tahan. Saat kuraba tempiknya
agak basah dan klistorisnya
membesar. Pelan-pelan
kumasukkan kontolku dalam
liang senggama Mirna.
Pengalaman pertamaku
merasakan senggama. Setelah
masuk seluruhnya rasanya
kontolku seperti ada yang
menjepit. Lalu kumaju
mundurkan pelan-pelan dan
Mbak Mirna terus mendesah.
Baru sekitar tigapuluh kali
gerakan maju mundur pelan
kontolku belum sempat kucabut
sudah memuntahkan sperma
dalam liang senggama Mbak
Mirna. Mbak Mirna tenang-
tenang saja. Rupanya walau
belum menikah ia sudah sering
bersenggama terutama waktu
masih bekerja di Jakarta. Tetapi
sudah hampir setahun ia hanya
bermasturbasi. Paling sering
menggunakan botol kecap
ukuran kecil. "Aduh maaf Mbak
maniku kusemprot di dalam."
Sesalku sambil memakai kembali
celanaku. "Tidak apa-apa Mbak
sudah pengalaman. Kalau cuma
segini tak berpengaruh." Mbak
mirna juga memakai kembali
celananya. Terlihat beberapa
helai jembutnya rontok. Ia lalu
pamit hendak tidur lagi. Waktu
menunjukkan tepat tengah
malam. Dalam hati aku terasa
mimpi telah bersenggama
langsung dengan wanita. Akibat
kelelahan aku tertidur lagi. Tiga
jam kemudian terdengar HPku
berbunyi. Aku terjaga.
Terima kasih sudah mampir disini, jangan lupa
untuk balik lagi ya....
Koleksi Foto bugil terlengkap,
Foto bugil Tante Girang, Foto
Bugil Pelajar, Foto Bugil Jilbab,
Gambar Memek, Video XXX,
Cerita Sex, Foto Bugil Terbaru,
Foto Bugil 2014, Video Bokep
Indo, Jepang, Barat, Video
Streaming